
Medan, 19 November 2025 Pustakawan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Anggraini Pitaloka, S.IP, turut hadir dan berperan aktif dalam Rapat Koordinasi Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Sumatera Utara) yang diselenggarakan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Kapasitas Tenaga Perpustakaan dan Pustakawan Daerah 2025, sebuah upaya untuk memperkuat profesionalisme pustakawan dalam menghadapi perkembangan dunia literasi dan transformasi digital yang semakin pesat.

Rakor ini mengusung tema “Optimalisasi Peran IPI dalam Meningkatkan Kompetensi dan Profesionalisme Pustakawan.” Tema ini tidak sekadar menjadi slogan, tetapi mencerminkan tekad kuat organisasi dalam mendorong transformasi kompetensi pustakawan di seluruh Sumatera Utara. IPI berharap melalui tema ini, pustakawan tidak hanya terampil dalam aspek teknis seperti pengelolaan koleksi dan layanan perpustakaan, tetapi juga memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan teknologi, tuntutan layanan digital, serta perubahan kebutuhan informasi masyarakat yang semakin dinamis.
Selama kegiatan berlangsung, suasana diskusi terlihat sangat hidup. Para peserta aktif berbagi pengalaman, tantangan, dan gagasan inovatif yang dapat diterapkan dalam pengembangan perpustakaan di masing-masing daerah. Antusiasme tersebut semakin terasa dengan kehadiran 92 pustakawan dari berbagai kabupaten/kota, perguruan tinggi, hingga lembaga perpustakaan lainnya. Keberagaman latar belakang institusi ini turut memperkaya diskusi, menjadikan rakor sebagai ruang kolaboratif yang mampu menyatukan visi dalam memajukan dunia perpustakaan dan penguatan profesi pustakawan di Sumatera Utara.
Dalam forum ini, sejumlah agenda strategis dibahas sebagai langkah awal dalam menyongsong periode kepengurusan baru IPI Sumut 2026–2029. Seluruh peserta mengikuti dengan seksama pemaparan hasil Kongres IPI di Batam, yang menjadi dasar pemutakhiran arah kebijakan organisasi serta penyesuaian program kerja dengan perkembangan profesi pustakawan di tingkat nasional. Informasi dari kongres tersebut menjadi pijakan penting bagi IPI Sumut untuk merumuskan langkah yang lebih relevan, terukur, dan responsif terhadap kebutuhan lapangan.
Selain itu, forum juga mengurai secara rinci mekanisme pemilihan calon ketua dan pengurus IPI Sumut yang baru, termasuk pembentukan panitia pemilihan serta penyusunan tata tertib keanggotaan yang lebih tertib, transparan, dan terstruktur. Proses ini bertujuan memastikan keberlangsungan organisasi yang sehat dan kredibel, sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi seluruh anggota IPI.
Momentum paling penting dalam rapat ini adalah dimulainya pembentukan Tim Rancangan Program Kerja IPI 2026–2029, yang akan menjadi peta jalan strategis bagi organisasi dalam tiga tahun mendatang. Tim ini diharapkan mampu merumuskan program penguatan kompetensi pustakawan, tata kelola organisasi, hingga inisiatif pengembangan gerakan literasi yang berdampak nyata di Sumatera Utara. Kehadiran tim perumus tersebut menandai komitmen IPI Sumut untuk membangun kebijakan yang tidak hanya administratif, tetapi benar-benar mendukung peningkatan kualitas layanan perpustakaan dan perkembangan profesional pustakawan.

Dalam proses pembahasan tersebut, Pustakawan UMSU menunjukkan kontribusi yang signifikan melalui keterlibatan langsung dalam penyusunan rancangan program kerja IPI Sumatera Utara. Kehadiran Anggraini Pitaloka tidak hanya sebagai peserta, tetapi sebagai representasi profesional yang aktif menyampaikan gagasan, masukan, dan perspektif berbasis pengalaman kerja perpustakaan perguruan tinggi. Partisipasi ini menjadi wujud nyata komitmen UMSU dalam mendukung penguatan profesi pustakawan di tingkat regional.
Keterlibatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa UMSU memandang penting peran pustakawan dalam meningkatkan mutu layanan informasi dan pengelolaan perpustakaan. Melalui keterlibatan ini, UMSU berupaya memastikan bahwa program kerja yang dirancang IPI nantinya mampu menjawab kebutuhan zaman mulai dari integrasi teknologi informasi, tata kelola perpustakaan modern, hingga pengembangan layanan literasi yang lebih inklusif dan mudah diakses masyarakat.
Lebih jauh, kontribusi pustakawan UMSU juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi. Sinergi tersebut menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem literasi daerah yang berkelanjutan, di mana setiap pihak saling melengkapi untuk menghasilkan kebijakan, program, dan inovasi yang berdampak nyata bagi kemajuan perpustakaan di Sumatera Utara. Dengan hadirnya kolaborasi semacam ini, diharapkan pengembangan pustakawan yang kompeten dan berdaya saing dapat terus terwujud dari waktu ke waktu.

Rakor ini turut memperlihatkan semangat kebersamaan yang kuat di antara para pustakawan Sumatera Utara. Diskusi yang berlangsung tidak hanya berfokus pada persoalan internal organisasi, tetapi juga menjadi ruang terbuka bagi peserta untuk saling bertukar pengalaman mengenai pengelolaan perpustakaan di berbagai lingkungan mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga layanan publik. Beragam tantangan yang dihadapi di lapangan, seperti keterbatasan fasilitas, kebutuhan peningkatan kompetensi, serta dinamika perkembangan teknologi informasi, menjadi bahan pembahasan yang memperkaya wawasan seluruh peserta.
Lebih dari itu, forum ini juga membuka peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan antarlembaga, baik dalam bentuk program peningkatan literasi, pelatihan bersama, hingga pengembangan perpustakaan berbasis komunitas. Keterlibatan aktif berbagai pihak menjadikan rakor ini bukan sekadar agenda rutinitas organisasi, tetapi sebuah wadah strategis yang memperkokoh jaringan kerja pustakawan di Sumatera Utara. Melalui sinergi tersebut, rakor ini menggerakkan energi positif untuk membangun budaya literasi yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan serta memastikan bahwa perpustakaan tetap menjadi pusat pengetahuan yang relevan di tengah perubahan zaman.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, IPI Sumatera Utara berharap dapat mempersiapkan pustakawan yang lebih kompeten, profesional, dan responsif terhadap tuntutan zaman. Rakor ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali peran pustakawan sebagai garda terdepan dalam mendorong peningkatan literasi di tengah masyarakat. Melalui forum ini, IPI menegaskan bahwa pustakawan bukan hanya pengelola koleksi, tetapi juga agen perubahan yang berperan dalam menyediakan informasi yang akurat, relevan, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus mempertegas posisi IPI Sumatera Utara sebagai organisasi yang adaptif, progresif, dan visioner dalam membina serta memberdayakan anggotanya. IPI berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang kolaborasi, peningkatan kapasitas, dan pembaruan kompetensi agar pustakawan mampu menghadapi tantangan era digital dan perkembangan teknologi informasi. Dengan kolaborasi yang kuat dan langkah strategis yang berkelanjutan, diharapkan masa depan literasi di Sumatera Utara akan semakin cerah dan berdampak nyata bagi dunia pendidikan serta kemajuan masyarakat secara luas.


