Deli Serdang, 5–9 November 2025 — Dalam upaya memperkuat peran strategis tenaga kependidikan, khususnya pustakawan sekolah, Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Tenaga Kependidikan Perpustakaan Sekolah Jenjang SMP, bertempat di Travel Hub Hotel Kualanamu, Deli Serdang.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini menjadi wadah penting bagi tenaga kependidikan perpustakaan untuk memperdalam kemampuan profesional, memperkuat jejaring antar pustakawan sekolah, serta menyesuaikan diri dengan transformasi pendidikan di era digital. Di tengah arus perubahan yang begitu cepat, pustakawan kini dituntut tidak hanya menguasai teknis pengelolaan koleksi, tetapi juga menjadi penggerak literasi, inovator layanan informasi, dan fasilitator pembelajaran berbasis teknologi.

Sebagai bentuk kolaborasi lintas institusi, BBGTK Sumatera Utara melibatkan Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dr. Muhammad Arifin, M.Pd., sebagai salah satu fasilitator utama. Kehadiran beliau memperkaya kegiatan melalui berbagi pengalaman dan praktik baik dari dunia perpustakaan perguruan tinggi yang dapat diadaptasi ke tingkat sekolah menengah.

Dalam sesi pemaparannya, Dr. Arifin menegaskan bahwa perpustakaan sekolah adalah jantung dari kegiatan literasi dan pembelajaran. Ia menyampaikan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang hidup yang menjadi pusat lahirnya ide, kreativitas, dan semangat belajar.
Lebih lanjut, Dr. Arifin mengajak para peserta untuk menumbuhkan kesadaran baru tentang peran pustakawan. Menurutnya, pustakawan tidak lagi hanya bertugas mengelola koleksi bahan bacaan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu menumbuhkan budaya literasi, berpikir kritis, dan rasa ingin tahu di lingkungan sekolah.
Ia juga menekankan pentingnya menciptakan perpustakaan yang aktif dan dekat dengan siswa—tempat di mana peserta didik merasa nyaman untuk membaca, berdiskusi, dan mengeksplorasi pengetahuan baru. Dengan demikian, perpustakaan dapat benar-benar menjadi ruang inspiratif yang menumbuhkan karakter dan daya pikir generasi muda.

Melalui pendekatan pembelajaran partisipatif, kegiatan ini mengombinasikan antara materi konseptual dan sesi praktik langsung. Para peserta dilatih untuk mengelola koleksi secara efektif, mulai dari proses pengadaan, pengolahan bahan pustaka, klasifikasi, pembuatan katalog, hingga penataan koleksi di rak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada strategi pengembangan layanan berbasis teknologi informasi, seperti digitalisasi arsip, penggunaan aplikasi otomasi perpustakaan, serta strategi promosi literasi melalui media sosial. Sesi-sesi ini dirancang agar pustakawan sekolah dapat lebih adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai pelayanan humanis.

Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terutama dalam sesi diskusi kelompok dan studi kasus. Mereka saling berbagi pengalaman mengenai dinamika pengelolaan perpustakaan di sekolah masing-masing mulai dari keterbatasan sarana, minat baca siswa, hingga strategi menjalin dukungan dengan kepala sekolah dan guru. Dari diskusi tersebut lahir beragam ide kolaboratif, termasuk rencana untuk membangun komunitas pustakawan sekolah berbasis jejaring daerah.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menekankan pentingnya efisiensi, ketertiban administrasi, dan pelayanan yang berorientasi pada pemustaka. Setiap pustakawan didorong untuk mengedepankan sikap ramah, komunikatif, serta membangun hubungan yang baik dengan siswa dan guru. Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan diharapkan menjadi ruang yang inklusif dan menyenangkan, tempat di mana siswa dapat belajar, bereksplorasi, dan menemukan inspirasi.
Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen keberlanjutan program pengembangan pustakawan sekolah. BBGTK Sumatera Utara bersama Dinas Pendidikan dan UMSU berencana menindaklanjuti pelatihan ini dengan program pendampingan dan monitoring di lapangan. Upaya ini diharapkan dapat memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta benar-benar diterapkan secara konsisten di sekolah masing-masing.

Melalui sinergi antara BBGTK, perguruan tinggi, dan sekolah, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem literasi di Sumatera Utara. Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia di bidang kepustakawanan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan berbagai pihak yang memiliki visi dan komitmen yang sama terhadap pendidikan.
Sebagai penutup, kegiatan ini menegaskan bahwa pustakawan sekolah adalah garda terdepan dalam membangun budaya literasi dan karakter siswa. Dengan kompetensi yang mumpuni, kreativitas yang tinggi, dan semangat kolaboratif, mereka menjadi pilar penting dalam menciptakan sekolah yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya nilai, berbudaya, dan adaptif terhadap perubahan zaman.


